Visitor...

Kamis, 05 Juni 2014

Mengunjungi Tempat Suci dalam Agama Buddha

Mengunjungi Tempat Suci dalam Agama Buddha


Mengunjungi Tempat Suci dalam Agama Buddhis
Source: Ehipassiko Book, 2 SMP

Halo semua…! Sorry akhir” ini ane g sempet kelola ni blog. Ok deh, tanpa basa basi langsung aja cekidot. Siapa tau bisa nambah ilmu pengetahuan. Hehehe :D
.
Sebenarnya, apa sih dharmayatra? Dharmayatra adalah suatu kegiatan mengunjungi tempat suci yang berkaitan dengan peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha.
Saat Sang Buddha menjelang parinibbana(wafat), Sang Buddha menguraikan khotbah “Mahaparinibbana Sutta”. Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan pada Bhikku Ananda bahwa adanya tempat- tempat yang menjadi tujuan wisata Dharma dan manfaatnya.
Nah, sekarang agan- agan semua pasti ingin tahu apa aja sih yang menjadi tujuan Dharmayatra? Oke, ini dia:

a.      Taman Lumbini, tempat kelahiran Tathagata
Notes:
Taman lumbini dikenal dengan sebutan Rummindei(Nepal). Di taman ini terdapat sebuah pilar setinggi 22 kaki yang didirikan oleh Raja Asoka. Pilar ini dibangun untuk memperingati tempat kelahiran seorang Buddha. Disini juga terdapat wihara kecil yang bernama Wihara Mayadevi. Wihara ini dibangun atas penghormatan kepada ibunda sang Bodhisatta yaitu Ratu Mahamaya.
Gambar: Wihara Mayadevi

b.      Bodhgaya, tempat Tathagata mencapai penerangan sempurna

Notes:
Bodhgaya berada di tepi sungai Neranjara di Uruvela(Uruwela) yang kini telah kering. Dahulu, Bodhgaya dikenal dengan sebutan Hutan Gaya, namun sejak Pertapa Gotama mencapai pencerahan disini akhirnya populer dengan nama Bodhgaya.

Saat ini terdapat sebuah Wihara yang terbesar di India, Wihara Mahabodhi namanya. Wihara yang berlokasi di kota Bodhgaya ini menjulang setinggi 52 meter. Sementara itu, di sisi barat dan belakang bangunan wihara terdapat pohon bodhi yang diyakini sebagai turunan dari pohon yang menaungi pertapa Gotama mencapai ke-Buddhaan.

Selain wihara Mahabodhi, ada juga wihara Sujata. Wihara ini tampak sederhana. Biasanya para peziarah membaca paritta dan merenungkan kembali kisah Sujata yang mempersembahkan nasi susu kepada Petapa Gotama, sebagai makan terakhirnya sebelum mencapai pencerahan sempurna.

c.      Taman Rusa Isipatana, tempat dimana Tathagata memutar roda Dhamma yang pertama kalinya.
Notes:
Di Taman Rusa Isipatana, terdfapat 2 peristiwa penting. Yang pertama, dibabarkannya Dhamma pertama kali pada lima orang pertapa yang disebut Dhammacakkappavattana Sutta( Dha-ma-ca-ka-pa-wa-ta-na su-ta), yang berisi tentang 4 Kebenaran Mulia yang termasuk juga Jalan Mulia Berfaktor 8.

Peristiwa penting kedua ialah terbentuknya Sangha para biksu yang pertama kalinya. Sejak saat itu, maka lengkaplah sudah tiga permata, yaitu: Buddha, Dhamma, Sangha.

Taman Isipatana sekarang dikenal dengan nama kota Sarnath. Di kota ini, terdapat stupa Dhamekh yang sebelumnya bernama Stupa Dhammacakka. Stupa ini dibangun oleh Raja Asoka. Selain stupa, di kota terdapat wihara Mulagandhakuti. Sarnath juga terkenal dengan pilar Asoka yang terbuat dari batu pasir. Pilar yang bermahkotakan empat patung singa yang merupakan lambang dari negara India ini terdapat pahatan dari titah raja yang berbunyi,"Tidak ada seorang pun yang boleh menyebabkan terpecah belahnya kubu para biksu". Kalimat ini mengadung pengertian bahwa para biksu dan biksuni harus menjaga keutuhan Sangha dan taat pada Vinaya (peraturan disiplin para biksu dan biksuni).

Gambar: Stupa Dhamekh


d.      Kusinara, tempat Tathagata mencapai parinibbana.

Notes:
Kusinara sekarang lebih dikenal dengan nama Kushinagar. Di tempat ini, Sang Buddha dengan kasih sayangnya, mempersilahkan Subhada untuk bertemu dengan-Nya. Subhada kemudian menjadi siswa terakhir yang ditahbiskan Buddha sebelum parinibbana.

Pada bulan purnama Waisak tahun 543 SM, Buddha wafat /parinibbana diantara 2 buah pohon sala kembar Di Kushinara, dapat juga dijumpai sebuah cettiya yang sekarang tinggal tumpukan batu merah saja. Orang- orang menyebut cetiya ini dengan nama Cetiya Makutabhandana atau sekarang yang dikenal dengan Stupa Ramabhar. Di cetiya inilah konon jenazah Sang Buddha dikremasi 7 hari setelah beliau wafat.
Gambar: Stupa Ramabhar


Wah….ternyata indah ya tempat- tempat Dharmayatra ini. Moga- moga kita semua bisa pergi kesana J
Ternyata, ada cara- cara yang bisa dilakukan untuk menghormati tempat- tempat suci. Antara lain dengan melakukan Padakkhina/Pradaksina, yaitu mengitari tempat- tempat suci tersebut sambil membaca paritta suci. Lalu bisa juga dengan ber-namaskara/bersujud.

Mengapa harus ber-namaskara/ bersujud? Agar melambangkan bahwa kita menghormati tempat- tempat suci tersebut.

Oh ya, selain itu, Sang Buddha mengatakan kepada Bhikku Ananda bahwa jika para peziarah yang meninggal saat akan berziarah ke tempat- tempat Dharmayatra tadi dengan hati yang penuh bakti dan keyakinan, maka ia akan terlahir di alam bahagia! Wahhh….
Sebelum wafat, Sang Buddha mengatakan “Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha”.

 Artinya apa hayoo?

Wkwkwk….artinya itu adalah “Segala sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur. Berjuanglah dengan penuh kesadaran”. Maksudnya adalah agar kita selalu menyadari bahwa segala yang ada akan hancur dengan sendirinya. So, kalau ada hal yang kita senangi, agan bisa rela’in kan? Hhehehe.
.
Sekilas info:
Suatu tempat dikatakan suci karena memiliki berhubungan dengan kehidupan seseorang yang diakui telah mencapai tingkat kesucian. Jadi, tolong jangan salah paham ya teman- teman semua J

Selamat menikmati informasi yang ane sajikan kali ini. Byee...silahkan lihat postingaku berikutnya :) dan juga tolong doakan agar UKK tahun ini ane bisa naik ke kelas 3 SMP. See you..!

Thank you for visiting my blog,
 7th June 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar